Reverse Factoring Payment pada dasarnya adalah salah satu bentuk financial technology yang membantu pelaku usaha untuk mendapatkan bahan baku tanpa harus menyediakan modal besar. Konsepnya adalah si pelaku usaha tidak harus membayar tunai bahan baku yang mereka beli. Sehingga biaya modal untuk memulai produksi bisa ditekan semaksimal mungkin. Bahkan, jika si pelaku usaha memiliki reputasi bagus, mereka bisa saja memulai produksi tanpa modal sama sekali. Mereka bisa membayar bahan baku yang mereka pakai ketika sudah mulai menjual produk dan mendapatkan income.
Konsep yang tradisional, yang sudah banyak berjalan di masyarakat kita adalah si pelaku usaha mendapatkan fasilitas penundaaan pembayaran dari suplier. Dengan kesepakatan tertentu, pelaku usaha dapat membayar bahan baku dengan cara cicilan atau per termin. Suplier dapat menerapkan harga berbeda jika pembeli membayar dengan tenor yang lebih panjang, atau sebaliknya memberikan diskon jika pembayaran diterima diawal. Metode ini dikenal dengan nama dynamic discounting.
Reverse payment pada dasarnya sama. Perbedaannya adalah si pembeli tidak mendapatkan fasilitas dari suplier, melainkan mendapatkan talangana dari lembaga keuangan. Ketika pelaku usaha membeli bahan baku dari suplier, nota pembelian atau dokumen lainnya yang disepakati akan menjadi alat bagi suplier untuk menagih penuh kepada lembaga keuangan yang membiayai. Kemudian si pembeli akan melunasi pembayaran kepada lembaga keuangan tersebut sesuai perjanjian.
Metode ini akan menguntungkan bagi pelaku usaha yang memiliki kredit rating yang bagus. Ia akan mendapatkan bunga relatif murah dan jadwal pembayaran yang lunak. Sehingga dapat menekan kebutuhan modal kerja. Sebaliknya jika pelaku usaha memiliki catatan yang biasa saja atau bahkan catatan yang tidak baik di perbankan, maka akan menanggung bunga yang relatif lebih tinggi dengan jadwal yang lebih ketat.
Saat ini, Reverse payment berkembang menjadi layanan fintek yang cukup populer. Sayangnya, banyak pengusaha justru terjerumus dalam jeratan hutang. Karena mereka sebenarnya tidak memiliki fundamental yang bagus, tetapi memaksakan diri untuk mulai berproduksi karena mendapatkan talangan dari lembaga fintek. Kemudahan mulai usaha seringkali mengaburkan kelayakan usaha itu sediri. Alhasil, ketika produknya tidak bisa dijual, tidak ada yang bisa digunakan untuk mengembalikan talangan tersebut.