Rubicon adalah sungai kecil di Italia utara. Dua ribu tahun yang lalu, Julius Caesar mengubah sejarah dengan membawa pasukannya, legio XIII, menyeberangi Rubicon.
Saat itu, Julius Caesar adalah Gubernur Provinsi Gaul. Sebuah wilayah luas yang meliputi sebagian besar negara eropa modern. Kemenangannya dalam penaklukan Gaul membuat Caesar semakin populer bagi penduduk Roma. Sebagian orang bahkan menganggapnya sebagai dewa, mereka menginginkan Caesar menjadi Kaisar Romawi.
Sementara Roma, pada saat itu merupakan Republik. Dipimpin oleh perwakilan yang bernama senat. Para senator mulai khawatir Caesar akan mengambil kesempatan untuk menggulingkan republik dan menjadi diktator. Mereka kemudian meminta Caesar untuk membubarkan pasukannya, Legiun ke XIII, dan pulang ke Roma. Tetapi Caesar menolak, memilih untuk menggaji pasukannya dengan uang pribadi.
Tapi itu tidak bertahan lama. Tanpa dukungan finansial dari senat, Caesar akhirnya memutuskan pulang ke Roma, dengan pasukannya, bersenjata lengkap.
Rubicon adalah batas wilayah yang memisahkan Roma dengan Gaul. Sungai itu menjadi batas psikologis, apakah Caesar akan menentang senat, atau mengikuti perintah untuk pulang tanpa pasukan dan senjata.
Ketika Caesar memutuskan untuk membawa pasukannya menyeberangi Rubicon, maka pecahlah perang saudara yang mengubah sejarah Roma dan dunia. Saat itu, senat menunjuk Gnaeus Pompeius Magnus atau Pompey Yang Agung, untuk melindungi Roma dari ancaman Caesar. Pompey adalah Jendral veteran yang terkenal dengan kejayaannya menaklukan pemberontakan di Spanyol dan bajak laut di Mediterania.
Pompey disanjung oleh penduduk Roma karena berhasil membangun jaringan distribusi pasokan makanan untuk kota Roma. Jaringan yang menjamin suplai makanan dari provinsi-provinsi jajahan. Pompey sendiri sempat menikahi putri dari Julius Caesar. Sayang, putri tersebut meninggal dalam persalinan. Tragedi yang juga mengakhiri persekutuan antara dua jendral terkuat di Roma, Pompey dan Caesar.
Pada akhirnya, Caesar berhasil mengalahkan Pompei dan senat. Dia secara teknis tidak pernah jadi kaisar, tetapi Caesar memang memerintah sebagai diktator. Ia melakukan sentralisasi pemerintahan republik, reformasi agraria, mengubah penggajian untuk veteran, dan banyak lagi. Julius Caesar merintis jalan untuk dibangunnya kekaisaran Romawi, yang diawali oleh anak angkatnya, Oktavianus, atau dikenal dengan nama Augustus.
Caesar berkuasa di Roma tidak lebih dari lima tahun. Sampai pada di suatu hari yang keramat, 15 Maret, atau ides de mars. Hari dimana orang Roma percaya, semua hutang harus dibayar. Para senator yang khawatir dengan kekuasaan absolut Julius Caesar, bersepakat untuk mengakhiri hidupnya. Mereka berkumpul di depan gedung senat. Ketika Caesar datang, mereka mengerumuni dan mencabut pisau masing-masing, kemudian menghujamkan ketubuh Caesar beramai-ramai.
Puluhan orang senator menghujamkan pisau ke tubuh Caesar bersama-sama. Sebagai simbol bahwa tindakan tersebut merupakan tindakan kolektif. Tidak ada satu orang yang bertanggungjawab sendirian atas eksekusi tersebut.
Termasuk didalam rombongan tersebut adalah Brutus, seorang senator yang sangat dekat dengan Caesar. Bahkan sebagian literatur menyebut Brutus sebagai anak politik bagi Caesar.
Dari situ, salah satu frase paling terkenal Caesar muncul “Et tu, Brute “ terjemahan bebasnya adalah “dan kamu, Brutus?” atau “kamu juga Brutus?”. Kata-kata yang diucapkan dalam hembusan nafas terakhirnya, sambil menatap Brutus, menghujamkan pisau ketubuhnya.
Ketika menyeberangi Rubicon, Caesar berkata “Alea iacta est”. Artinya adalah “the die is cast”, atau kematian sudah sudah terlihat. Saat itu, dengan memutuskan untuk menyeberangi Rubicon, Caesar sudah tahu pasti akan menghabiskan sisa hidupnya sebagai musuh Republik. Saat itu dia sudah melihat betapa besar resiko yang dia ambil untuk menyeberangi Rubicon dan melawan senat.
Sampai sekarang, ungkapan “crossing the rubicon” dipakai untuk menggambarkan situasi ketika seseorang mengambil keputusan yang tidak dapat diubah kembali. Ketika seseorang menerima, bahwa alea iacta est.