Sejak ribuan tahun lalu, nenek moyang kita sudah memutuskan bahwa hidup akan lebih nyaman kalau kita menetap dan bercocok tanam, daripada harus berburu di hutan dan memungut tanaman-tanaman yang tersedia di alam. Paling tidak, dengan menetap, kita lebih bisa menjamin tersedianya makanan dan perlindungan dari cuaca. Dengan menetap dan bermasyarakat, kita bisa menjalani hidup yang lebih berkualitas. Dan mungkin usia yang lebih panjang.
Tetapi apakah kita lebih bahagia? Atau jangan-jangan kita lebih stres daripada pendahulu kita yang hidup dari berburu dan meramu?
Saat ini, rata-rata manusia bekerja sekitar empat puluh sampai empat puluh lima jam dalam seminggu, atau tujuh setengah jam sampai sembilan jam per hari. Mengerjakan rutinitas yang sama, dari pagi sampai sore. Selama bertahun-tahun sampai kita pensiun nantinya.
Bandingkan dengan para pemburu yang masih hidup sampai saat ini. Seperti suku-suku yang bermukim di gurun Kalahari di Afrika. Mereka bertahan hidup dengan berburu sekali tiap tiga hari atau sekitar dua kali dalam seminggu. Sekali berburu, mereka hanya butuh waktu antara tiga sampai enam jam saja. Artinya dalam seminggu mereka hanya bekerja selama dua belas jam. Setelah itu, mungkin mereka hanya tiduran santai dibawah pohon sambil melihat zebra dikejar-kejar singa…live!
Mereka juga tinggal di tempat yang sederhana, kecil, tidak banyak lemari, vas, atau kursi. Tidak butuh waktu banyak untuk menyapu, cuci piring, membersihkan perabotan, jemur kasur, menyiram tanaman, bayar listrik, bayar internet, bayar pajak, dan seterusnya. Sekali lagi, Mereka mungkin hanya santai-santai tiduran dibawah pohon melihat zebra dimakan singa…live!
Dan jangan lupa, ketika kita bekerja di pabrik sepatu memotong karet dengan cara yang sama selama berjam-jam. Ketika akuntan memelototi angka-angka yang sama selama berjam-jam. Ketika politisi berdebat hal yang sama selama berjam-jam. Para pemburu di Kalahari atau di hutan amazon, atau di padang rumput Mongolia bekerja dengan berjalan-jalan di lingkungan paling indah di muka bumi. Dengan oksigen dan pemandangan alam yang eksotis, dengan tantangan yang memicu adrenalin, serotonin, dopamin, endorfin dan semua hormon yang membuat bahagia.
Bayangkan, ketika kita bergelantungan di KRL setiap pagi, dengan muka datar. Ketika kita mengendarai mobil atau motor menuju tempat kerja, dengan rutinitas yang sama yang akan kita hadapi sampai sore hari. Para pemburu itu berjalan riang dan bersendau gurau dengan teman-temannya menuju hutan. Bercerita tentang pengalaman mereka dikejar babi hutan, mendapatkan jamur langka, menangkap burung yang gemuk dan gurih, atau di gigit ular.
Jadi, apakah kita lebih bahagia?
Disadur dari buku Sapiens : A brief history of humankind (Harari, 2014)