Menjelang akhir abad 18, Dinasti Mugal, penguasa India yang berasal dari Asia Tengah, bertekuk lutut dihadapan para eksekutif perusahaan dari Inggris. Ya, sebuah perusahaan yang dibangun oleh auditor Kota London, Sir Thomas Smythe di tahun 1616. Dinasti yang paling lama berkuasa di India, dikalahkan bukan oleh raja atau kaisar, tapi oleh seorang Gubernur Jendral sebuah perusahaan dagang bernama Warren Hasting.
Saat itu, perusahaan-perusahaan dagang dari Eropa membangun kekuasaannya dengan kolusi, persekongkolan, suap, dan adu domba. Sebelum akhirnya datang dengan tentara bayaran untuk menghancurkan kekuasaan-kekuasaan lokal yang sudah tercerai berai. East India Company adalah salah satunya. Berawal dari perusahaan kecil yang pegawainya tidak lebih dari 35 orang, dengan modal yang dikumpulkan oleh Auditor Smythe dari sekitar seratus orang kaya di London, EIC berkembang menjadi perusahaan yang menguasai hampir setengah jalur perdagangan dunia di abad 17 – 18.
Selain EIC, ada VOC atau Vereenigde Oostindische Compagnie dari Belanda. Kemudian Compagnie française pour le commerce des Indes orientales dari Perancis. Semua berlayar ke Timur Jauh dengan motif yang sama, yaitu menguasai perdagangan. Masa-masa itu, ekonomi mengenal istilah merkantilisme, yang bermula dari kata merchant atau pedagang.
Belanda menguasai jalur rempah dari Banda, dan akhirnya seluruh Indonesia. Perancis menguasai sebagian kecil wilayah Indo China dan sempat berkuasa di Indonesia ketika Napoleon menguasai Belanda. Tetapi kemudian terusir ketika Napoleon jatuh. Inggris, setelah kalah di Malaka, akhirnya fokus mengembangkan basisnya di Bengal, menjadikan Nawab atau penguasa disana sebagai boneka.
Ketika Dinasti Mugal mulai runtuh, para Nawab atau gubernur berlomba-lomba membangun kekuasaan. Dengan biaya perang yang mahal, para penguasa memungut pajak yang lebih besar pada rakyatnya. Sementara penguasa sibuk berperang, rakyatnya dihadapkan pada situasi yang tidak memungkinkan untuk berkembang. Kejahatan dimana-mana dan panen hancur karena semua laki-laki muda pergi jadi tentara.
Ketika kehidupan mereka semakin memburuk, masyarakat, terutama pedagang yang punya uang untuk perjalanan, memilih mengungsi ke wilayah yang aman. Saat itu, satu-satunya wilayah yang tenang adalah Bay of Bengal, wilayah kekuasaan East India Company. Dan Kolkata, salah satu kota terbesarnya, menjadi tujuan utama para pengungsi.
Para pengungsi yang membawa keahlian dan uang, berperan penting dalam memajukan perekonomian. Dampaknya, Kolkata berkembang menjadi kota yang paling maju perdagangannya di seluruh India. Kekuatan East India Company semakin berkembang pesat, nilai saham mereka semakin meningkat, kekayaan perusahaan semakin berlipat. Dengan modal kekayaan tersebut, perusahaan kecil dari Depfort, Inggris, menguasai India.
Sekarang pun, dunia masih terbangun dengan konstruksi yang sama. Hanya dengan senjata yang berbeda. Di beberapa tempat, senjata masih menentukan. Tempat seperti Sierra Leone, Congo, dan Papua Nugini, tentara bayaran dari Executive Outcome, Blackwater, dan Sandline, mereka dikontrak oleh penguasa-penguasa lokal untuk menghancurkan rivalnya. Sebagai imbalannya, tentara bayaran yang resminya disebut Private Military Companies (PMC) tersebut dibayar dengan konsesi atas sumber daya alam.
Sementara di tempat yang lebih beradab, penjajahan tidak dengan senapan. Hilangnya batas negara, membuat perusahaan asing dengan mudah mengambil kekayaan dari tanah kita, melalui perdagangan. Sama seperti dulu VOC meraup untung dari rempah-rempah di Banda. Sekarang amazon dan alibaba, mendapatkan laba dari jutaan transaksi yang kita lakukan. Bedanya, amazon tidak menggunakan kapal perang dan tidak membayar tentara bersenjata. Tanpa harus berperang, keuntungan yang dihasilkan perusahaan-perusahaan fintech di Silicon Valey, dalam sehari, setara dengan nilai penyelundupan berlian dari Siera Leone dalam satu tahun.
Lalu apa ini jelek? Tidak juga. Globalisasi memberikan peluang untuk perusahaan asing menjajah kita sama setaranya dengan peluang kita untuk menjajah mereka. Lalu apakah kita punya peluang? Mereka kan sudah lebih dulu maju? Pasti, secara alami, dunia akan bergerak menuju keseimbangan. Belanda sebelum berjaya dengan VOC adalah negara jajahan Prancis dan Spanyol, miskin dan tidak punya apa-apa. Amerika dulu jajahan semua orang. Hampir semua negara besar pernah menjajah Amerika.
China, pernah hampir saja hancur ketika kebijakan great leap forward yang dicetuskan Mao Zedong membawa paceklik dan kelaparan yang membunuh jutaan orang. Diperkirakan sekitar 30 juta sampai 40 juta penduduk mati gara-gara kebijakan ini.
Tapi mereka bisa bangkit dan berubah menjadi raksasa dunia. Jadi kita tidak boleh takut dengan globalisasi. Kalau tidak bisa menerima globalisasi sebagai kebaikan, setidaknya terimalah sebagai kodrat. Sesuatu yang tidak bisa lagi ditolak. Pol pot sudah mencoba, Korea Utara masih mencoba, Kuba sudah mulai menyerah, dan sejarah membuktikan, tidak ada yang bisa melawan globalisasi dan selamat.
Terinspirasi oleh:
The Anarchy, William Dallrymple ; Confession of an economic hitman ; why nation fail and Blood Diamond, the movie ;