Perang Dunia Lagi? Sepertinya Tidak.

Beberapa hari ini, berita dipenuhi kabar mengenai penyerangan Rusia ke wilayah Ukraina. Berbeda dengan invasi mereka ke Donetsk, atau Crimea, invasi ke Ukraina memiliki dampak yang lebih strategis. Karena berpeluang untuk memancing pecahnya perang dunia ketiga. Kedaulatan Ukraina sekarang merupakan pertaruhan pengaruh antara dua kekuatan militer terbesar di dunia, Amerika-NATO dengan blok Rusia.

Ketika Putin menempatkan elemen perangnya disekitar Ukraina, banyak pihak meragukan keberaniannya. Bahkan sebagian besar penduduk di Kyiv-pun masih tenang, tidak percaya Putin akan segila itu, membuka front terbuka dengan NATO. Tetapi semua berubah ketika tank pertama menyeberang perbatasan Ukraina. Sekarang lebih banyak pihak yang melihat bahwa Ukraina memang hanya ajang gertak sambal NATO saja. Ketika Rusia benar-benar mengambil langkah agresif, tidak banyak yang bisa mereka lakukan. Seperti yang terjadi sebelumnya di Crimea.

Outcome yang paling masuk akal dari situasi ini adalah pemerintah Ukraina akan digulingkan dan diganti pemerintahan yang pro-Rusia. Karena banyak pihak menilai, tidak ada kekuatan dunia yang akan mempertaruhkan perdamaian dunia hanya untuk Ukraina. Di abad 21 ini, hasrat dunia untuk terjun kedalam perang besar sudah tidak lagi sama.

Perang lebih banyak di picu oleh motif ekonomi. Walaupun dengan atribut yang berbeda-beda. Mulai dari perang salib sampai perang dingin. Agama, ideologi, dan sebagainya, selalu dijadikan atribut serta alasan untuk saling menyerang. Sementara saat ini, menurut Youval Noah Harrari, ekonomi global sudah bergeser dari sebelumnya bersifat material-based menjadi knowledge-based (Harrari, 2017). Sehingga perang terbuka secara fisik sudah kehilangan urgensinya.

Harrari menggambarkan, pada tahun 1998, Rwanda menginvasi Kongo untuk menguasai tambang coltan. Karena saat itu, 80% cadangan coltan dunia ada di wilayah tersebut. Sementara coltan dibutuhkan untuk membuat handphone dan laptop, yang permintaannya sedang menanjak tinggi. Dari wilayah yang mereka caplok, Rwanda mendapatkan $240 juta setiap tahunnya. Jumlah tersebut merupakan angka yang sangat besar bagi negara miskin di Afrika. Sehingga dinilai wajar jika Rwanda begitu termotivasi untuk merebutnya melalui perang.

Tetapi motif yang sama tidak bisa diterapkan pada kasus silicon valley di California. Walaupun tempat ini menghasilkan uang jauh lebih besar dari tambang coltan di Kongo. China misalnya, walaupun mereka mungkin mampu, mereka tidak akan datang membawa pasukan dan tank untuk mencaplok California. Karena disana tidak ada tambang silicon yang bisa dikuasai. Tetapi China mencaplok dengan cara yang berbeda, yaitu melalui kerjasama bisnis dengan raksasa-raksasa teknologi seperti Apple dan Microsoft. Dengan software dan produk-produk teknologi, China bisa menghasilkan $240 juta hanya dalam satu hari. Tanpa harus berdarah-darah mengirimkan pasukan ke Amerika.

Seiring dengan perubahan tersebut, angka kematian yang disebabkan oleh konflik dan kekerasan, termasuk perang semakin menurun. Jika sebelumnya, 15% kematian dipicu oleh perang, di abad ke 20, hanya 5% saja kematian yang disebabkan oleh kekerasan. Pada tahun 2012, dari jumlah total kematian di dunia sebanyak kurang lebih 56 juta orang; hanya 120.000 saja yang mati karena perang. Sementara 500.000 orang meninggal karena kejahatan, 800.000 mati karena bunuh diri, dan 1,5 juta lainnya meninggal karena diabetes. Jadi, saat ini, gula, permen, coklat dan es krim jauh lebih berbayaha daripada perang (Harrari, 2017)

Perang tidak lagi jadi pilihan yang menarik untuk penguasa. Karena sejarah membuktikan, setiap konflik global akan menenggelamkan para penguasa. Perang dunia I misalnya, mengubah bentuk Eropa dari pemerintahan yang feodal, menjadi pemerintahan yang lebih egaliter. Perang dunia II membawa Hitler dan rezim fasis lainnya ke jurang kehancuran. Demikian pula dengan perang dingin yang berakhir dengan bubarnya Uni Soviet. 

Bahkan kalau kita melihat sejarah lebih jauh lagi, perang salib yang berlangsung sekitar abad pertengahan, berhasil menggeser hegemoni keluarga ningrat di Eropa. Crusade memberikan peluang kepada bangsawan rendahan dan bahkan orang biasa untuk menjadi penguasa. Seperti yang terjadi pada Baldwin of Boulogne yang menjadi menjadi pemimpin Edessa setelah menggulingkan penguasa setempat. Bohemond seorang pemimpin pasukan salib yang menjadi penguasa Antioch. Dan yang paling berpengaruh tentu saja Godfrey of Bouilon yang menjadi penguasa Kerajaan Yerusalem setelah perang berakhir.

Tetapi, bagaimanapun juga, dimana ada dua kekuatan berinteraksi, walaupun mereka dalam keadaan damai, tetap saja harus menyisakan tempat untuk mengantisipasi terjadinya perang. International relations were governed by the law of the jungle, according to which even if two polities lived in peace, war always remained an option, begitu kata Youfal Noah Harrari, seorang ilmuwan dari Israel yang menulis buku Homo Deus.

Seperti yang terjadi di Ukraina sekarang. Terjebak diantara dua kekuatan besar dunia. Banyak ahli menyarankan agar Ukraina tetap netral, sehingga tidak ada alasan untuk Rusia menyerangnya. Tetapi mungkin sama seperti pemberontak di Syiria, Irak dan banyak tempat lain, mereka tergoda untuk melawan hegemoni Rusia, dengan keyakinan banyak teman-teman kuat berdiri dibelakangnya. Tetapi sepertinya nasib mereka akan sama seperti Afganistan dan Irak…ditinggal.

Referensi :

Harrari, Yufal Noah (2017). Homo Deus, A Brief History of Tomorrow

Leave a comment