Dokter vs Dukun Pijat

*repost

Besar di desa pelosok era 80-an membuat saya sudah akrab dg yg namanya kesleo, ‘kecetit’, ‘sengleh’, dan cidera semacamnya. Bisa dimaklumi, karena hampir semua permainan yg kami lakukan pasti bersifat fisik. Kami tidak familier dengan monopoli, scrable, nitendo, sega, dan semacamnya. Paling banter permainan yg tidak tergolong outdoor activity hanya catur, karambol, atau kartu remi. Itupun sering berakhir di medan laga, jambak2an rambut, banting-bantingan dan cakar-cakaran, dan jurus bela diri lain yang efektif dalam streetfight.

Praktis, semua permainan kami mengandung resiko tinggi untuk mengalami cidera tulang. Lecet, berdarah, memar, benjol, sudah tidak masuk lagi resiko yang serius. Kami malah lebih mempertimbangkan cidera perasaan, kalau di pertandingan aftermath (cakar-cakaran, banting-bantingan, dll) kita kalah.

Dulu cidera seperti kesleo atau kecetit bukan masalah serius. Karena di panggilkan dukun bayi aja semua selesai. Dengan sedikit pengorbanan dan teriak kesakitan ketika dipijat, kemudian tangan di balut, dibalur param kocok dan obat2 yg baunya minta ampun. Tidak sampai sebulan kemudian sudah siap beraksi lagi.

Begitulah, jaman dulu semua simple, murah, dan gampang. Tidak seperti sekarang. Ada seorang kerabat dari teman yg ‘kecetit’ punggungnya. Dia berobat ke RS khusus ortopedi di ibukota kemudian berakhir di ruang operasi dengan biaya puluhan juta.

Apa yg menarik disini? Beberapa waktu yang lampau, saat ritual pagi, saya pernah baca artikel menarik di majalah TIME. Artikel tersebut di tulis oleh seorang kandidat PhD. Ceritanya dia punya istri yg mengalami patah tulang ringan di pergelangan tangan, jadi tulang tangan bergeser dari palm atau telapak tangan. Walau tidak begitu parah, dokter menyarankan utk di operasi. Setelah menjalani beberapa kali operasi yg melelahkan, penulis mengadakan riset mengenai penanganan yg paling efektif untuk bone fracture pada tingkatan tertentu.

Singkat cerita, hasil dari riset tersebut adalah, pergeseran sendi-sendi atau yang kita sebut kesleo, sebenarnya tidak perlu di operasi. Penanganan yg paling tepat justru secepatnya tulang yg bergeser di kembalikan pada tempatnya. Lalu di jaga supaya selalu berada pada posisi yg tetap/fixed, bisa dengan bantuan gipsum atau yg lain. Setelah di diamkan paling tidak 40 hari tulang akan membentuk jaringannya lagi. Sebuah mekanisme sistemik yg sdh di sediakan oleh Alloh SWT ketika menciptakan tubuh manusia.

Kesimpulannya, untuk cidera tulang pada level ringan, dibawa ke dukun pijat justru bukan langkah yg bodoh. Karena hasil operasi juga tidak selalu lebih sempurna dari cara tradisional. Sangat tergantung dengan sarana prasarana, teknologi yang tersedia, kapabilitas dokter-nya, dan yg tidak kalah penting adalah mood si dokter tadi…mungkin.

Anyway, our body, as a part of nature, has a certain mechanism to cope with any problem. wether it virus, bacteria, or physical shock. Medical treatment should be the last resort when our body failed to deal with the problem.

Cheers!

Leave a comment