Benarkah kalau semakin lama kita joging, semakin banyak kalori kita yang terbakar? Apakah kita membutuhkan sampo lebih banyak kalau rambut kita lebih panjang? Apakah kalau semakin banyak menabung, keuangan kita akan lebih terjamin? Apakah penjualan es krim meningkat ketika suhu udara meningkat? Apakah semakin banyak kopi kita minum, semakin lama kita terjaga?
Banyak sekali pertanyaan yang kita ajukan untuk menguji kecurigaan kita atas hubungan antara kedua variabel. Apa pentingnya mengetahui hubungan tersebut? Seperti hubungan antara kopi dan kantuk, sampo dan panjang rambut, durasi dengan kalori dan sebagainya.
Dengan mengetahui hubungan antara dua variabel, kita akan terbantu mengambil keputusan. Misalnya ketika kita menunggu pertandingan sepakbola tengah malam, apakah kita perlu minum kopi lebih banyak atau cukup satu gelas. Jika kita ingin cepat kurus apakah kita perlu menambah durasi joging, atau mengurangi asupan makan saja, dan lain sebagainya. Karena setiap keputusan menentukan seberapa besar sumberdaya kita yang keluar, maka perlu didukung dengan pemahaman yang cukup atas semua aspek yang terkait.
Terlebih lagi dalam menjalankan sebuah bisnis. Pengetahuan mengenai karakteristik pasar, konsumen dan semua variabel terkait sangat penting. Seperti misalnya apakah semakin banyak tenaga pemasar, akan meningkatkan jumlah pelanggan baru? Apakah kenaikan upah akan meningkatkan kinerja karyawan? Apakah air conditioner di ruangan akan meningkatkan moral karyawan?
Setiap keputusan untuk memasang AC baru, menaikan upah, merekrut tenaga marketing, tentu akan menimbulkan beban yang lebih besar. Tanpa kajian yang cukup, dengan didukung data-data yang akurat, dan analisis yang handal, keputusan yang diambil bisa berakibat fatal bagi sebuah bisnis.
Oleh karena itu, penting sekali setiap entitas, tidak hanya bisnis tetapi juga yayasan, ormas, dan organisasi lainnya, untuk mengetahui karakteristik lingkungan yang berpengaruh terhadap keberlangsungannya. Business analysis adalah salah satu alat untuk memperoleh pemahaman mengenai aspek-aspek terkait dalam proses pengambilan keputusan.
Correlation Analysis
Salah satu alat analisis yang paling sederhana adalah uji korelasi. Yaitu salah satu metode statistik yang digunakan untuk menguji ada atau tidaknya hubungan antara dua variabel. Metode ini bukan metode yang paling insightful, tetapi banyak digunakan karena relatif simpel dibandingkan metode lainnya.
Uji korelasi sangat bermanfaat dalam melakukan perencanaan strategis sebuah perusahaan. Metode ini menjadi salah satu alat analisa bisnis yang cukup kuat. Beberapa contohnya penggunaannya antara lain ; Di Amerika, ketika cuaca memburuk atau ada potensi tornado, pemerintah segera mengeluarkan peringatan kepada masyarakat. Kemudian Walmart, sebuah perusahaan retail besar di Amerika, menemukan adanya hubungan antara penjualan pop-tart dan peringatan cuaca tersebut. Setiap muncul peringatan cuaca, penjualan pop-tart meningkat. Temuan ini mendorong Walmart untuk menata Pop-tart di pintu masuk toko ketika cuaca mulai memburuk. Strategi ini berhasil meningkatkan penjualan pop-tart secara signifikan.
Contoh lain adalah korelasi antara penjualan popok bayi dengan penjualan bir. Ternyata laki-laki dewasa yang belanja popok bayi, punya kecenderungan membeli bir pada saat yang sama. Mungkin karena ketika mereka beli popok, artinya mereka akan menghabiskan weekend dirumah saja, menjaga bayi mereka. Sehingga mereka membutuhkan persediaan bir lebih banyak. Temuan ini membantu toko retail menata produk yang saling berkorelasi. Alhasil, penjualan semakin meningkat.
Kapan uji korelasi digunakan?
Korelasi lebih tepat untuk digunakan jika kita sudah memiliki hipotesis bahwa dua variabel memiliki hubungan. Uji korelasi digunakan untuk menguji apakah kecurigaan tersebut benar dan terbukti. Misalnya, kita curiga setiap temperatur mempengaruhi penjualan es krim. Maka kita bisa tes dengan menguji korelasi antara data suhu di suatu wilayah dengan data penjualan es krim pada wilayah tersebut.
Uji korelasi juga bisa digunakan untuk mengetahui hubungan yang palin kuat diantara beberapa variabel. Misalnya, hubungan antara umur dengan kecenderungan memutar musik dangdut. Kita menguji korelasi yang paling kuat, apakah pada kelompok remaja, dewasa, atau orang tua. Hasil dari uji tersebut membantu penjual DVD dangdut untuk menentukan segmen pasar yang di arah. Sehingga akan membantu meningkatkan efisiensi serta profitabilitas bisnis.
Siapa yang perlu menggunakan analisis korelasi?
Pada dasarnya, uji korelasi bisa digunakan pada semua set data yang sifatnya kuantitatif atau dapat dikuantifikasi. Variabel-variabel tersebut dipilih dari aspek-aspek yang bermanfaat untuk membantu pengambilan keputusan dan peningkatan kinerja.
Uji korelasi akan menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti:
- Apakah kita sudah memilih segmen pasar yang paling menguntungkan?
- Apakah keputusan konsumen ditentukan oleh harga jual? Apakah ketika harga turun, konsumen akan membeli lebih banyak produk?
- Apakah gaji mempengaruhi kepuasan kerja karyawan?
Apakah karyawan cenderung membolos ketika semakin banyak hari libur?
Bagaimana cara menghitung korelasi?
Koefisien korelasi dapat dihitung menggunakan kalkulator scientific, yaitu menggunakan fungsi “Pearson’s correlation coefficient”. Sementara untuk menghitung secara manual, kita dapat menggunakan formula berikut ini:

Berikut adalah langkah-langkah untuk melakukan uji korelasi secara manual:
- Langkah pertama; tentukan kedua variabel yang akan diuji korelasinya. Kemudian kumpulkan data terkait kedua variabel tersebut. Data harus dalam bentuk kuantitatif
- Langkah kedua; susun spreadsheet atau tabel yang berisi data tiap-tiap variabel dalam bentuk kolom (vertikal). Kolom pertama diberi header variabel “x” dan dibawahnya diisi data set dari variabel “x”, kemudian lakukan langkah yang sama pada kolom kedua dengan diberi header variabel “y”.
- Langkah ketiga; kolom ketiga, keempat, dan kelima diberi label “x y”, “x x”, dan “y y”
- Langkah keempat; lakukan perhitungan sesuai rumus yang dituangkan pada tiap label pada kolom ketiga dan seterusnya. Contoh pada kolom ketiga, data dari kolom pertama (variabel “x”) dikali data kolom kedua (variabel “y”), dan seterusnya.
- Langkah kelima; tambahkan (fungsi “sum) pada sell paling bawah dari tiap-tiap kolom. Untuk menemukan jumlah total dari tiap-tiap kolom atau variabel.
- Langkah keenam; masukan angka dari jumlah total tersebut kedalam formula untuk menemukan nilai korelasi atau nilai “r”
Saat ini banyak sekali software yagn tersedia untuk menghitung nilai koefisien dari korelasi. Salah satu yang paling mudah diakses adalah formula di microsoft excel. Atau kita dapat mencari referensi tutorial online untuk menghitung koefisien korelasi.
Korelasi tidak menunjukan kausalitas.
Uji korelasi hanya menyediakan konfirmasi atas adanya hubungan antara kedua variabel. Tetapi, harus diperhatikan bahwa uji korelasi tidak dapat menyatakan bahwa terdapat hubungan kausalitas atau hubungan sebab akibat diantara variabel tersebut. Sehingga walaupun terdapat korelasi antara kedua variabel, tetapi belum tentu gejala pada variabel yang satu menyebabkan gejala pada variabel yang lain.
Demikian pula, uji korelasi tidak bisa digunakan untuk menyatakan bahwa jika tidak terhadap hubungan korelasi diantara kedua variabel, maka kedua variabel tersebut bersifat independen satu sama lain. Atau tidak saling mempengaruhi.
Untuk menguji apakah satu variabel saling mempengaruhi atau tidak satu sama lain, dan apakah ada hubungan sebab akibat antara satu variabel dengan yang lain, tidak dapat menggunakan uji korelasi. Tetapi banyak metode lain untuk menguji hubungan kausalitas tersebut dalam ilmu statistika.
Sumber :
Marr, B. (2016). Key business analytics: the 60+ business analysis tools every manager needs to know. Harlow, England: Pearson.